Jumat, 01 Maret 2013

Puisi Cinta untuk Ananda



Foto dari sini

Dalam keyakinan saya, cinta itu harus “dikatakan”. Tak perlu dengan bahasa yang rumit. Apalagi, jika yang tercinta hanya bisa memahaminya dengan penyampaian yang sederhana. Dalam keyakinan saya pula, bahasa cinta harus menjadi sebuah rutinitas, namun tidak membosankan. Sama seperti matahari, yang kehadirannya sering kali kita rindukan meski ia muncul setiap hari.

* * *


Saya menghampiri Naura yang tengah duduk sendiri di ruang tengah sambil menonton film kartun di televisi. Dengan menekuk lutut di lantai, saya menatap matanya dengan penuh cinta.

“Mama sangat sayang sama Dek Lola” kata saya dengan menyebut nama panggilannya. Dia hanya tersipu.

“Mama bahagia punya anak seperti Dek Lola, karena Dek Lola anaknya baik, sayang dan suka bantu Mama” dia masih tak berkata-kata namun senyumnya semakin mengembang. Agar saya tidak bermonolog, saya pancing dia untuk bersuara.

“Dek Lola sayang Mama?” Ia mengangguk cepat seraya berkata “Iya”. Adegan selanjutnya bisa ditebak. Ia akan mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kiri saya.

Di lain hari, saat kami duduk bersebelahan di kursi tamu sambil menatap terik matahari di luar, kembali saya mengungkapkan kata-kata cinta saya padanya.

“Dek Lola itu ya, seperti matahari buat Mama. Dek Lola membuat hari-hari Mama bersinar” kata saya dengan romantis. Seperti biasa, Naura kembali tersipu. Suami yang kebetulan juga berada di ruang yang sama turut tersipu. Aneh mungkin pikirnya, melihat saya mengungkapkan kata-kata cinta pada anak yang masih berumur 4 tahun bak seseorang yang sedang kasmaran. Saya tidak mau ambil pusing memikirkan apa yang suami pikirkan, saya lanjutkan kembali puisi cinta saya belum selesai.

“Kalau Mbak Sasha itu seperti bulan dan bintang, membuat malam-malam Mama menjadi indah” lanjut saya menyebut cinta saya yang lain. Lagi, Naura hanya tersipu. Entah dia mengerti atau tidak makna kata-kata saya secara harfiah, namun saya percaya dia merasakan cinta saya. Dan benih cinta yang saya tanam di sanubarinya itu, hampir sepanjang hari dalam hidupnya, sedikit demi sedikit mulai bersemi indah. Naura, juga Sasha, terbiasa menggunakan bahasa penuh cinta.

“Mama, lihat! Aku punya banyak bunga untuk Mama” ya, inilah yang hampir selalu dilakukan Naura setiap hari : memetik bunga untuk saya. Kadang bunga Kamboja kuning di halaman samping, kadang bunga belimbing wuluh di depan rumah. Bunga apapun yang bisa ia temukan meski berasal dari rumput liar di pinggir jalan. Selalu ada bunga cinta untuk Mama setiap hari.

Tak terhitung juga berapa kali ia berkata “Aku sayang Mama” dalam sehari. Berikut ciuman dan pelukan yang juga teramat sering ia berikan sejak bangun tidur sampai tidur lagi.

Tumbuhlah besar dengan penuh cinta Anakku…..:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;